Senin, 14 Maret 2011

Tata Cara Pengantin Gaya Surakarta

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Alasan Pemilihan Judul
Dalam pemilihan judul Karya Tulis ini penulis menentukan dan cenderung untuk memilih judul “MENGENAL PENGANTIN TRADISIONAL GAYA SURAKARTA” karena judul tersebut ada kaitannya dengan pelajaran yang penulis terima di sekolah.
Sedangkan alasan lain yang mendorong penulis mengetengahkan judul tersebut antara lain :
a.       Mengingat hampir punahnya kebudayaan tradisional khususnya di lingkungan Surakarta karena kemajuan zaman yang semakin modern membuat seseorang tidak mau lagi melakukan adat istiadat tradisional tersebut.
b.      Penulis ingin mengetahui secara mendalam tentang latar belakang serta maksud penggunaan pakaian pengantin tersebut.

B.     Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan karya tulis ini di samping sebagai syarat guna menempuh Evaluasi Belajar Tahap Akhir. Adapun tujuan lainnya ialah :
a.       Untuk menambah khasanah pengetahuan tentang pakaian pengantin gaya Surakarta.
b.      Untuk memberitahukan atau menginformasikan dan menyebarluaskan kepada pembaca agar pembaca mengetahui bagaimana pakaian pengantin gaya Surakarta khususnya dalam tata cara upacara tata busana.
c.       Di samping itu agar generasi pemuda sekarang ini lebih mengerti dan memahami tentang keanekaragaman tata upacara dan tata busana pengantin tradisional gaya Surakarta sebagai salah satu budaya kita.

C.     Pembatasan Masalah
a.       Apa yang menyebabkan masyarakat pada umumnya menganggap bahwa pusat kebudayaan adalah keraton, yaitu tampak seorang raja memimpin seluruh aktivitas tradisi dilakukan dengan pola keteraturan yang dipakai di dalamnya. Sehingga pusat budaya Jawa ini banyak mengkiblat ke keraton (Surakarta).
b.      Apa yang menyebabkan pengaruh adat dan tradisi Jawa gaya Surakarta khususnya di bidang uapacara dan tata rias pengantin sangat mendominasi di seluruh daerah di wilayah Jawa Tengah berakibat hampir menggeser tradisi-tradisi asli yang dimiliki oleh berbagai etnis yang daerah wilayah Jawa Tengah.
c.       Bagaimana gejala yang demikian itu mengakibatkan sistem upacara pengantin dari etnis-etnis tertentu akan terjadi kepunahan dan sedikit demi sedikit akan hilang dari masyarakat.

D.     Metode Pengumpulan Data
Metode yang penulis gunakan untuk mengumpulkan data adalah :
1.      Metode Observasi
Metode ini penulis gunakan untuk mengumpulkan data tentang bagian-bagian yang terdapat dalam pakaian pengantin gaya Surakarta.
2.      Metode Interview
Yaitu dengan bertanya kepada pemandu wisata atau petugas yang ada di tempat itu tentang pakaian pengantin gaya Surakarta.
3.      Metode Literatur
Yaitu mempelajari dan membaca buku-buku, makalah, koran, dan brosur yang ada kaitannya dengan pembahasan masalah Karya Tulis ini.

E.     Sistematika Penulisan Karya Tulis
Supaya pembaca semakin jelas dengan gambaran tentang karya tulis ini, maka di bawah ini diberikan sistematika karya tlis sebagai berikut :
BAB I        :  PENDAHULUAN
                     A.     Alasan Pemilihan Judul
                     B.      Maksud dan Tujuan Penulisan
                     C.      Batasan Masalah
                     D.     Metode Penulisan
                     E.      Sistematika Penulisan

BAB II       :  TINJAUAN UMUM
                     A.     Letak Geografis dan Masyarakat
                     B.      Latar Belakang Sejarah dan Budaya

BAB III      :  PENGANTIN BASAHAN GAYA SURAKARTA
                     A.     Tata Urutan Upacara Pengantin
                     B.      Tata Rias Pengantin
                     C.      Tata Busana Pengantin

BAB IV     :  PENUTUP
                     A.     Kesimpulan
                     B.      Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB II
TINJAUAN UMUM


A.     Letak Geografis dan Masyarakat
Kotamadya Surakarta dikenal sebagai Kota Surakarta. Populasinya itu semakin menanjak dengan banyaknya nama itu dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sebagai pusat Kebudayaan Jawa maupun Kesenian serta pelbagai sektor kehidupan lainnya di tingkat regional, nasional, dan internasional.
Surakarta sebagai daerah otonom di propinsi Jawa Tengah mempunyai daerah terhampar 7,6O lintang selatan atau 7O lintang selatan – 80O lintang selatan dan terhampar antara 100O bujur timur – 111O bujur timur. Daerah ini memiliki ketinggian +98 meter dari PAL serta beriklim panas dengan suhu 23O C.
Kotamadya Surakarta memiliki daerah sekitar 43.451 Km2 atau 4345,1 Ha. Daerah tersebut merupakan hamparan tanah yang masing-masing memiliki ciri tersendiri. Daerah Surakarta bagian barat dan tengah terdiri dari tanah biasa. Daerah Surakarta bagian timur memiliki tanah endapan lumpur. Sedang daerah bagian Surakarta bagian utara memiliki tanah hitam putih yang di sana sini terdapat tanah padas. Daerah bagian selatan memilki tanah liat putih tua. Kesemuanya itu merupakan satu kesatuan wilayah administratif yang batas-batasnya ditentukan secara administratif pula. Di sebelah utara wilayah administratif kota Surakarta dibatasi oleh wilayah kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo. Di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Klaten dan kabupaten Boyolali.
Dilihat dari faktor geografis, kedudukan Surakarta sangat strategis dan dengan demikian menguntungkan pengembangannya sebagai pusat berbagai kegiatan. Sebagai simpang lima yang menghubungkan dengan Semarang, pati, Yogyakarta, Madiun, dan Pantai Selatan (Pacitan). Surakarta memiliki prospek sebagai pusat kebudayaan, industri, pendidikan, pariwisata, dan olah raga yang cerah.
Sebagai daerah perkotaan, kota Surakarta sebagai pusat kegiatan pemerintah, pendidikan, perdagangan, serta berbagai kegiatan jasa lainnya. Oleh karena itu daerah sebagian besar merupakan pusat pemukiman penduduk, perkantoran, persekolahan, serta kegiatan lainnya.
Dengan demikian tanah yang dipilah untuk lahan pertanian sangat sedikit dibanding tanah yang digunakan untuk bangunan dan tanah yang tidak dapat dihuni karena terdiri dari sungai, parit, serta jalan-jalan.
Dari data yang ada, penduduk Surakarta berjumlah 3,5 juta jiwa pada siang hari dan 600 ribu pada malam harinya.

B.     Latar Belakang dan Sejarah
Kota Sala pada umumnya hanya sebuah dusun terletak di tepian barat Bengawan Semanggi yang tanahnya berawa-rawa. Dusun ini muncul dalam sejarah pada jaman pemerintahan Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Pajang.
Sala pada waktu itu memang daerah dari Kasultanan tersebut yang dipimpin oleh seorang Bekel yang bernama Kyai Sala. Maka sebutan dusun ini mengambil nama Kyai Bekel tersebut dan akhirnya sejak abad ke-18 Bengawan itu dikenal sebagai Bengawan Solo.
Munculnya dusun Sala dalam percaturan sejarah Jawa  karena terkait dengan sebuah peristiwa keluarga Sultan Hadiwijaya, yaitu sebuah peristiwa yang oleh Babad Tanah Jawa dinamakan kasus Sekara Kedaton. Yakni meceritakan kasus asmara antara Ratu Mas Lungid (putri bungsu Sultan Hadiwijaya) dengan Pabelan (putra Tumenggung Mayang). Kejadian ini sesungguhnya merupakan kasus biasa. Namun telah membawa dampak yang besar karena akan menjadi sebab langsung pertentangan antara Pajang dan Mataram. Karena rusaknya Kraton akibat geger Kartasura, maka susuhan Paku Buwono II berkehendak untuk memindahkan ke tempat lain. Untuk itu dibentuk tim pencari tempat. Akhirnya disepakati untuk mengajukan 3 tempat yang memungkinkan untuk dijadikan pembangunan Kraton, yaitu daerah dusun Kadipolo. Dusun selatan sana sewu. Meskipun tanahnya rendah dan berawa-rawa, akhirnya diputuskan bahwa dusun Sala lebih memadahi dibanding dengan 2 tempat lainnya.
Karenanya dusun Sala dijadikan tempat pembangunan Kraton yang baru, maka langkah selanjutnya adalah dengan usaha untuk menata dusun Sala hingga dapat dijadikan lahan pemukiman. Untuk itu maka sebuah tim ditugaskan untuk meneliti pancer dan tancep yang baik. Atas penelitian tim tersebut, ditemukan bahwa sumber air berada di kedung kol, pusat penduduk ada di dusun Sala, serta yang dapat dipergunakan untuk mengeruk rawa itu adalah Rawa Telawangi yang letaknya tidak jau dari dusun Sala. Akhirnya diputuskan bahwa untuk dapat menutup rawa itu dijadikan pemukiman. Rawa tersebut harus ditembok.
Dengan bantuan dari tokoh-tokoh dari Adipati Mancanegara, tanah dusun Sala dan Telawangi akhirnya sumber air dapat disumbat dan rawa dapat dikeringkan serta diurug. Dengan demikian rawa di dusun Sala dapat dijadikan pemukiamn. Dipilihnya daerah Sala untuk pembangunan Kraton diteruskan untuk pembangunan Kraton sendiri. Akhirnya pada tahun 1745 bertepatan dengan tanggal 17 Suro tahun 1970, Kraton Sala dipindahkan tangan Sumengkalan kumpuling Praja Kapiyarsi. Upacara dilakukan secara besar-besaran dengan memindahkan bangsal Pengrawit serta Ringin kurung sakemboran dari Kraton Kartasura. Pada saat itu juga di alun-alun disabdakan Hadiningrat. Dengan demikian, maka sejak tahun 1745, Surakarta menjadi pusat pemukiman. Jika sebelumnya pemukiman terutama di daerah Laweyan, maka akhirnya daerah sebelah timur dan sekitar Sala berkembang pesat.
Didirikannya masjid besar, pasar-pasar yang diatur dengan mekanisme Petungan Pancawara. Pancawara yaitu kegiatan pasar yang didasarkan atas hitungan kegiatan hari pasaran. Maka perekonomian berkembang dengan baik. Dukungan bangsawan Sala sebagai arus lalu-lintas antara daerah pedalaman dengan daerah pesisir juga memperkuat kedudukan Surakarta. Dengan demikian Surakarta berkembang menjadi pusat kegiatan politik, pemerintahan, administratif, dan tata perdagangan serta pusat kebudayaan. Meskipun secara administratif ekonomi dan secara kultural Surakarta relatif berkembang, namun secara politik Kraton Mataram menghadapi goncangan yang cukup berat.
Pertentangan antara Pangeran Mangkubumi dengan patih Kerajaan dan kompeni serta pertentangan antara raden mas Sahid dengan kerajaan dan kompeni telah melahirkan pemberontakan-pemberontakan. Ditandatanganinya perjanjian Giyanti (1757) akhirnya kerajaan Mataram dibagi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasunanan Mangkunegaran. Keadaan ini harus berlanjut hingga berakhirnya penjajahan kolonial Belanda, pendudukan jepang dan Mangkubumi perubahan-perubahan setelah Indonesia merdeka.
Sebagai kota budaya, kota Sala mempunyai tempat bersejarah dan juga peristiwa-peristiwa budaya yang sangat menarik, seperti jmisalnya Kraton Kasunanan dan Mangunegaran. Dua keberatan di Tanah Jawa yang sampai saat ini mengadakan kegiatan budaya. Boleh dikatakan bahwa kedua tempat ini menjadi pusat budaya dan tulang punggung peristiwa di kota Sala yang diharapkan akan mampu menyedot arus wisatawan untuk datang ke Kota Sala.
Demikian pula peristiwa budaya yang ada seperti Sekaten, Kitab Pusaka dan lain-lain, diharapkan akan semakin mampu memperkokoh kota Sala sebagai tata budaya.

BAB III
PENGANTIN BASAHAN GAYA SURAKARTA


A.     Tata Urutan Upacara Pengantin
   Pada umumnya masyarakat Surakarta untuk melaksanakan perkawinan perlu persiapan antara lain :
1.      Madik
Pada zaman dahulu “madik” dilaksanakan oleh orang tua, pada saat upacara perkawinan orang tua telah menemukan gadis yang dipadik dan ternyata cocok untuk dijodohkan dengan putranya. Maka segera diadakan penelitian melalui utusan (Duta) untuk mengetahui asal-usul dan data-data yang baik dan cocok serta memenuhi persyaratan. Maka orang tua memberi tahu putranya bahwa telah mendapatkan padikan. Terserah putranya dapat menerima atau tidak penawaran tersebut. Untuk mengetahui lebih jauh tentang keadaan calon yang ditunjuk oleh orang tuanya diadakan suatu acara “nontoni”.
2.      Nontoni
Nontoni adalah menyaksikan dari dekat calon pasangan yang telah dipadik. Acara nontoni ini dapat dilakasnakan dengan sengaja dalam pesta kecil yang dihadiri kedua belah pihak keluarga untuk saling menyaksikan calon pasangan dari dekat. Apabila dalam acara nontoni telah dicapai kesepakatan antar keluarga, maka sehera dilanjutkan dengan lamaran.
3.      Lamaran
Lamaran ialah mengajukan permohonan secara tertulis yang biasa disebut Surat Lamaran. Surat lamaran ini dibuat oelh calon pengantin laki-laki yang ditujukan kepada calon pengantin putri. Surat lamaran ditulis dengan tangan bahsa Jawa. Biasanya memakai kata-kata mutiara yang bagus selalu merendahkan diri.
Misalnya dengan kata-kata ngembun-ngembun enjing, enjajawah sonten untuk istilah meminang. Setelah kira-kira setengah bulan, pihak calon pengantin harus memberikan jawaban tertulis kepada orang tua calon pengantin pria. Apabila jawaban itu berisi berita yang mengabulkan lamaran, maka segera diatur waktu dan persiapan untuk pembicaraan upacara Srah-srahan atau Pemingset.
4.      Upacara Srah-srahan atau Pemingset
Penyerahan dari keluarga calon pengantin putra kepada orang tua calon pengantin putri. Adapun benda-benda yang dibawa oleh keluarga pihak calon pengantin pria adalah :
a.       Pisang Ayu ( Pisang Raja ) dan Suruh Ayu ( Sirih ) sebagai lambang Sadya Rahayu, yang artinya pengharapan akan datangnya kesejahteraan setelah hari perkawinan.
b.      Dua buah Jeruk Gulung ( Jeruk Getri ), merupakan lambang tekad bulat untuk mengarungi perkawinan.
c.       Dua buah Cangkir Gading ( Kepala Muda warna Kuning ), merupakan lambang ketetapan hati dan pikiran untuk melaksanakan perkawinan.
d.      Dua batang Tebu Wulung ( ungu ), merupakan lambang ketetapan kalbu atau hati.
e.       Kain Batik Tradisonal motif Sido Mukti, Sido Luhur, Sido Mulyo, merupakan lambang cita-cita yang mulia / luhur.
f.       Kain Batik Motif untuk Ayah dan Ibu, yang mengandung arti turun-temurun atau berkembang.
g.      Kain pamesing, berupa kain putih polos untuk nenek.
h.      Dua kepal Nasi Golong, merupakan lambang kesepakatan ( Gamolong ).
i.        Jadah, Jenang, dan Wajik, merupakan lambang kemakmuran keluarga setelah melaksanakan perkawinan.
j.        Empon-empon, Jahe, Kunyit, dan Kencur, merupakan lambang kesatuan yang menyertai kehidupan keluarga.
k.      Stagen warna Putih dari bahan Lawe, merupakan lambang kemakmuran sandang yang menyertai kehidupan keluarga.
l.        Cincin emas, merupakan lambang ikatan antara pengantin pria dan wanita.
Di samping itu dalam upacara Srah-srahan juga sering ditambah dengan macam-macam pakaian dan perhiasan menurut kemampuan masing-masing atau yang sering disebut Obon-obon.
5.      Upacara Pasang Tarub
Untuk melaksanakan Upacara Perjamuan Pengantin. Pihak yang gawe pada umumnya mendirikan tarub. Pembuatan tarub ini dilaksanakan pada hari ketujuh, lima atau tiga hari sebelum acara “sangat” atau kepastian acara perjamuan dilaksanakan. Acara “sangat” atau kepastian acara perjamuan dilaksanakan. Bahannya terbuat dari daun Nipah atau Daun Kelapa namanya Bertepe untuk atapnya, Bambu Wulung, untuk tiang-tiangnya. Kalau tarub sudah jadi di sekitaya diberi hiasan berupa plisir gula kelapa terbuat dari bahan dua macam warna, merah dan putih yang mempunyai arti merah : berani, putih : suci.
Pasang Tuwuhan
Setelah tarub jadi, pada kanan kiri pintu dipasang tuwuhan. Tuwuh yang artinya tumbuh, bahannya terdiri dari :
a.       Satu batang Pisang Raja yang masih lengkap dengan satu tandan pisangnya dipasang di sebelah kanan pintu.
b.      Satu pasang Pisang Sulut, juga masih lengkap dengan satu tandan pisangnya di sebelah kiri pintu.
c.       Satu janjang cengkir gading, satu janjang cengkir kelapa hijau, masing-masing dipasang pada sebelah kanan dan kiri pintu.
d.      Dua batang Tebu Wulung, masing-masing juga dipasang                                                                                                                                                                                                   pada sebelah kanan dan kiri pintu.
e.       Dua ikat padi dan lima macam daun-daunan, yaitu Daun Kluwih, Daun Dadap Serep, Daun Alang-alang, Daun Nanas, dan Daun Pop-opo.
f.       Janur Kuning dipasang melingkar-lingkar di atas Regol ( Pintu Masuk ). Hal ini dipergunakan sebagai tanda bahwa tempat itu sedang mengadakan Perjamuan Mantu, supaya tamu tidak keliru dan mempermudah untuk mencarinya ( tanda ).
6.      Upacara Siraman
Upacara Siraman ini dilaksanakan sehari sebelum hari menikah, maksudnya untuk mensucikan calon pengantin. Waktu yang baik untuk siraman adalah pada jam 11. 00 WIB. Upacara siraman ini bukan hanya calon pengantin putri saja, tetapi untuk pengantin pria. Waktunya bersamaan, hanya tempatnya yang berbeda.
Yang memandikan adalah para pinisapuh yang masih genap bersuami istri dan sejahtera hidupnya, supaya dapat menuruni / meneruskan kebahagiannya kepada calon pengantin. Yang memandikan berjumlah ganjil 7-9, yang terakhir juru rias menguyur dengan air kandi.kemuadian kandi dipecah sambil mengucapkan “calon pengantin wis pecah pamore”.
Adapun bahan untuk siraman adalah sebagai berikut :
a.       Air tawar atau hangat yang telah ditaburi Bunga Telon.
b.      Dua buah Kelapa Gading yang diikat jadi satu dimasukkan dalam bak mandi.
c.       Mengir untuk mebersihkan badan.
7.      Upacara Adata Dawet ( Jual Dawet )
Upacara Jual Dawet ini dilaksanakan selesai siraman. Menjual Dawet itu dilakukan oleh Ibu Calon Pengantin dipayungi oleh calon pengantin. Para tamu membeli Dawet dengan menggunakan kereweng atau pecahan genteng sebagai uang. Setelah itu uang dimasukkan dalam kandi dan disimpan dalam pendaringan atau tempat beras.
Upacara Tradisional adat Dawet yang mengesankan ini memang sulit untuk dilupakan. Dawet melambangkan “kemruwet” berdesakan, ini mengandung harapan agar pada upacara perjamuan tamu-tamu banyak yang datang.
8.      Upacara Midodoren ( Midodoreni )
Malam Midodoreni merupakan malam Tirakatan, tidak ada gamelan yang dibunyikan, tidak ada tarian, dan tidak aada atraksi. Sesudah siraman, calon pengantin putri sudah dikerik dan dihalub-halubi, dirias, lotha dioleskan dengan welat / paes berwarna hijau, disanggul dengan konde, kemudian memakai Kain Sawitan ( kain dan kebaya sama ). Sawitan dipakai selama menunggu hari panggih.
Pada malam Midodoreni, pengantin putri yang telah dirias duduk di depan Krobongan di dalam Keputren yang dinamakan Prubo Suyoso, ditemani sanak keluarga, dan para pini sepuh. Dalamkeheningan, diadakan pembacaan Macapat, Wulang Rah atau aneka Kidungan.
9.      Upacara Panggih
Upacara Panggih dilaksanakan pada waktu sesudah Maghrib (surup), karena mempunyai makna pertemuan antara siang dan malam. Tempat untuk panggih di tengah-tengah pintu di bawah olang-olang. Sebelum pengantin kedua sampai di tempat panggih, didahului dengan balang-balangan gantel.
Gantel berjumlah 4 buah, masing-masing dua buah, yang namanya Gendang asih dan gendang tukar. Pengantin Putri melempar 2 kali sasaran pria yang artinya tunduk dan berbakti kepada suami. Pengantin Pria juga 2 kali sasaran jantung yang artinya melempar kasih sayang serta meberi pitutur / nasehat kepada istri.
Selanjutnya Pengantin Pria menginjak telur dan Pengantin Putri membasuh kaki yang digunakan untuk menginjak telur. Sesudah upacara panggih, kedua pengantin bergandengan jari kelingking, berjalan menuju krobongan.
10.  Upacara Krobongan
Urutan-urutan upacara Krobongan adalah sebagai berikut :
a.       Sungkem dari pengantin putri kepada pengantin pria. Walaupun pria itu buka bangsawan, maksudnya istri harus berbakti kepada suami.
b.      Tompo koyo / kacar kucur.
c.       Minum rujak dengan Kelapa Muda dan Wedang Tape Ketan.
d.      Nimbang yang dilaksanakan oleh orang tua pengantin.
e.       Sungkem kepada kedua orang tua pengantin.
f.       Dahar Klimah dilaksanakan di Kamar Pengantin secara tertutup. Masing-masing membuat tiga kepalan Nasi Punar. Nasi kepalan Pengantin Putri dimakan Pengantin Pria dan nasi kepalan Pengantin Pria dimakan pengantin Putri.

B.     Tata Rias Pengantin
Tata rias pengantin basahan gaya Surakarta meliputi sebagai berikut :
1.   Tata Rias Wajah
Tata rias wajah dilaksanakan oleh perias atau juru paes menggunakan pupur tradisional, pada bagian mata cukup dengan selak alis dibentuk “menjangan ranggah” yang ditulis menggunakan pensil alis. Konon pada waktu itu sekalipun pensil alis termasuk istimewa, di Keraton tersedia.
Perang / Pemerah pipi tidak digunakan.sebagai pemerah bibir dipakai gincu atau benges, yaitu semacam kertas berlipat-lipat yang bagian dalamnya berwarna merah dengan cara memakainya dioleskan pada bibir ( abad 14 ).
Menurut sejarah, wanita-wanita Indonesia bagian barat dilukiskan sebagai wanita yang berkulit langsat.
Di dalam dongeng / puisi-puisi tentang lukisan wanita yang cantik selalu berkulit “nemu-giring”, yaitu kuning kehijauan.
Dan sampai sekarang warna kulit itulah yang menjadi idaman seorang wanita Indonesia, khususnya suku Jawa. Oleh karena itu rias wajah pengantin selalu diusahakan mendekati warna kulit yang sempurna idaman wanita Jawa, yaitu kuning kehijauan.
Setelah kulit wajah dirias dengan warna tersebut, mulailah mata dirias terlebih dahulu dengan membuat alis berbentuk “menjangan ranggah” berwarna hitam, karena pada umumnya rambut orang Jawa adalah hitam. Kemudian digunakan perang mata berwarna natural, misalnya coklat, hijau muda atau kuning muda, sehingga mata kelopak menjadi lebih indah atau cemerlang. Untuk tata rias mata ini sekarang dapat dipergunakan kosmetik modern yang lebih mudah diterapkan, misalnya saja dengan “eye liner” atau celak mata cair, dan mascara sebagai pelentik bulu mata.
Pemerah pipi yang dulunya tidak ada, kini boleh dipakai secara samar-samar untuk membuat kesan pipi sehat, yaitu berwarna kemerah-merahan, sehingga dengan demikian bentuk pipi terlihat sempurna.Pemulas bibir berwarna merah sirih supaya tidak menyimpang dari warna tradisonalnya.
Untuk tata rias wajah ini memang diperlukan keterampilan dan perasaan peka, agar wajah penganti menampilkan citra yang halus, anggun, dan mempesona, berselera ketimuran. Sekalipun menggunakan alat-alat rias modern.
Apabila tata rias wajah telah selesai dikerjakan, dimulailah melukis dahi dengan paesan pengantin.



2.   Tata Rias Dahi ( Paes )
Seni paes dahulu merupakan seni yang diajarkan secara turun-temurun, dengan cara membuat lukisan pada dahi pengantin dengan perasaan seni mendalam.
Jadi tidak seperti sekarang di mana paes pengantin dibuat dengan menggunakan ukuran bahkan kadang-kadang dengan pertolongan benang untuk memperoleh hasil yang simetris dan tepat.
Tugas juru paes atau perias penganten hanya terbatas hanya merias pengantin putri saja, sedangkan pengantin pria ditangani juru rias pria.
Pada waktu ini seorang juru paes merangkap membuat sajen, sekaligus merias pengantin putri dan pria, menjadi dukun pengantin, dan kerap kali bertindak sebagai panitia urusan upacara pengantin.
Tata Rias Dahi ( Cengkorongan ) sebelum diwarnai dengan “lotha” yaitu ramuan khusus sebagaimana diuraikan sebelumnya yang antara lain terbuat dari bahan malam “kate” minyak jerak dan pipisan daun dondonggula dan seterusnya.
Paes ini terbagi menjadi :
a.       Gajah      :  bagian tengah dahi berbentuk seperti pangka telur bebek.
b.      Pengapit :  bagian atau kiri gajah berbentuk ngudup kanthil.
c.       Penitis    :  bagian sisi atas gajah, berbentuk seperti ujung telur bebek.
d.      Godheg  :  bagian muka daun telinga berbentuk cambang yang indah seperti mongot.
Besar dan perbandingan masing-masing bentuk paes pada dasarnya tergantung pada bentuk muka dan kepala penganten. Dalam hal ini bagi para perias yang sudah mahir akan dapat membuatnya dengan perasaan. Cengorongan inilah yang kemudian diisi dan diwarnai latha.
Pada masa dulu, wajah yang sudah dipaes selama dalam midodoreni tidak boleh dihapus dan pada pagi harinya hanya di”tambal“, diperbaiki atau disempurnakan di sana-sini saja. Sesudah itu pengantin mengikuti semua upacara pernikahan sampai selesai dan barulah paes dihapus.
Memang demikian pengantin putri pada pagi hari itu hanya mandi sebatas leher saja, dan setelah paes selesai, di tengah dahi antara wajah dan pangkal hidung dihiasi Citok, yaitu Daun Sirih yang dibuat seperti bentuk wajik kecil.
3.   Tata Rias Rambut
Sesudah wajah selesai dirias, maka rambut pengantin disisr ke belakang membentuk sanggar dengan cara menyisir perlahan rambut yang tumbuh di atas telinga ke arah atas (ubun-ubun). Kemudian dengan menggunakan Ibu Jari rambut tersebut didorong ke depan sehingga membentuk sunggar yang dimaksud tadi, lalu dijepit dengan rambut.
Selanjutnya rambut di bagian tengah atas dahi diambil / disisir selebar 2 jari untuk “langsing” yaitu penguat sanggul. Jika rambut panjang diambil sedikit saja tetapi jika pendek terpaksa diambil sampai kira-kira di tengah kepala atau secukupnya.
Setelah itu semua rambut diikat denga tali dan dilengkapi sebuah rajut panjang berisi irisan halus Daun Pandan wangi yang dibentuk bulatan dan berlubang di tengahnya.
Lubang di tengah bulatan ini gunanya untuk dimasuki rambut yang telah diikat tadi dan selanjutnya rambut disisir menutupi seluruh pandan.
Dengan hornal dan jepit rambut, sanggul dikuatkan kedudukannya agar tidak mudah lepas dan terurai. Sedang lungsen ditarik perlahan ke belakang untuk mengetatkan sanggul.
Setelah ditutup dengan rajut halus, diberi hiasan rangkaian Bunga Melati berbentuk segi empat besar yang kiranya cukup untuk membungkus seluruh sanggul tersebut, karena bentuknya yang mirip sebuah bokor, maka sanggul semacam ini diberi nama “ “Ukel Bokol Mengkurep”.
Selasai membuat sanggul dimulailah membuat hiasan rambut bagian berupa “canthung”. Canthung untuk pengantin basahan sebenarnya dibuat dari rambutnya sendiri yang kemudian diberi pradha. Bentuk canthung menyerupai sebuah kipas dan terletak di pangkal kedua pengapit.
Sebagai penyelesaian / pelengkap canthung ini di bagian tepinya dihiasi sekuntum bunga Melati yang setengah mekar. Untaian bunga Melati yang disebut “tiba dada” dipasang pada sanggul di sebelah kanan atas dan menjuntai ke bawah.
Adapun perhiasan pengantin putri adalah sebagai berikut :
a.       Sebuah cunduk jungkal / sisir hias
b.      11 buah cunduk mentul / kembang goyang, yang terdiri atas :
·         1 cunduk mentul kupu ageng ( kupu-kupu besar )
·         1 pasang cunduk mentul sekar srengese ( bunga Matahari )
·         1 pasang cunduk mentul kupu alit ( kupu-kupu kecil )
·         1 pasang cunduk mentul sekar sruni ( bunga seruni )
·         1 pasang cunduk mentul lima ( gajah )
·         1 pasang cunduk mentul menjangan ( kijang )
c.       1 buah peniti hias untuk dipasang di tengah belakang sanggul
d.      1 pasang hiasan “sokan” diletakkan di kiri dan di kanan sanggul. Perhiasan ini berbentuk persegi panjang dengan bunga-bungaan kecil yang dapat bergoyang.

C.     Tata Busana Pengantin
1.      Busana Basahan Putri
Yang dimaksud dengan busana basahan adalah busan yang terbuat dari kain mori halus yang dicelupkan dalam dua warna, yaitu hitam dan putih atau hijau dan putih, kemudian dilukis dengan bhan perada yaitu cat emas ( bahsa Jawa : pradha ). Pada kain batik ini dilukis hewan-hewan hutan seperti kijang, kalajengking, kupu-kupu, mimi, dan mintung, dan sebagainya yng bentuknya serba indah, artistik, dan bukan hewan besar-besar. Sebaliknya sekarang acap kali kita melihat kain “drodhot” atau “kampuh” semacam itu dilukisi hewan-hewan hutan yang besar-besar, sehingga tampak “seram”, menakutkan, misalnya, gajah, harimau, naga, dan sebagainya. Demikian juga warnanya bermacam-macam.
Panjang kain “kempuh” untuk pengantin putri adalah 4½ meter dan lemarnya dobel, sehingga seluruhnya ada 8 kacu.
Warna yang dianggap baik di lingkungan kraton adalah :
·         Bangun tulak ( hitam kebiruan dan putih )
·         Gadhug Mlati ( hijau tua dan putih)
“kampuh” atau dhodhot semacam itu disebut alas-alasan. Mungkin karena lukisannya terdiri dari hewan-hewan hutan.
Cat emas yang dipakai sangat baik mutunya sehingga tida rontok da mengelupas selama puluhan tahun, tidak seperti cat emas jaman sekarang.
Sebelum pengantin putri dibusanani terlebih dahulu dirias wajahnya ditata rambutnya.
2.      Busana Basahan Putri
Sejak jaman dahulu, pengantin pria sebelum dibusanai kempuh, tubuhnya diolesi dengan boreh, yaitu bagian badan atas, tangan, dan jari-jari kaki mulai dari mata kaki sampai ke jari-jari kaki.
Demikian pula wajahnya tidak luput dari tata rias dengan bedak atau pupur sekedar untuk menyesuaikan warna kulit muka dengan tubuh yang telah diborehi.
Alis mata jika bulu-bulunya cukup tebal hanya disikat dengan sikat alis supaya tampak rapi. Sebaliknya jika bulunya jarang atau tipis, dipertebal menurut bentuk alisnya dengan pensil alis berwarna hitam, agar tidak kelihatan karena pengaruh bedak tadi.
Sebuah celana panjang yang terbuat dari cinde sutra seperti kain cinde pengantin putri, adakalanya di bagian bawah kaki diberi serad / plisir emas.
Kain dhodhot / kempuh yang dipakai adalah jenis alas-alasan yang serupa dengan pengantin putri, dan secara “ngumber kunco” khusus untuk pria ( bukan ngumber kunco seperti yang dipakai putri ).
Adapuncorak kain kempuh alas-alasan untuk pria gambarnya agak lebih besar daripada kempuh untuk puteri. Panjangnya +5 meter. Ungkup : dipakai sebagai ikat pinggang, terbuat dari pita emas selebar 4 cm, dan dilapisi kain beludru atau sutra merah.
Sebagai ikat pinggang, ungkup dilengkapi dengan 3 (tiga) buah lidah-lidahan terbuat dari bahan dan warna yang sama ujungnya dihiasi rambai-rambai emas. Dari ketiga lidah-lidahan yang menggantung ke bawah, 2 di antaranya berada di belakang, sedang sebuah di pakai di muka tengah (di bawah timang).
Kuluk methak : yaitu kuluk dengan methak berwarna putih kebiru-biruan dipakai sebagai penutup kepala (topi).
Kuluk methak berwarna putih seluruhnya biasanya dipakai untuk ijab kabul.
Keris / wangkingan : kelung ulur emas dengan singgetan, karset, timang kretes, yaitu timang bermata berlian.
Bunga : 2 kuntum bunga melati untuk sumping telinga kiri dan kanan.
1 untaian buntel yang terbuat dari dedaunan, bunga melati dan kanthil.
Cara Mengenakan busana :
·         Celana panjang cinde dikenakan seperti memakai celana biasa.
·         Sebuah stagen dililitkan pada pinggang sebagai alas pemakaian kain kampih agar kelihatan rata dan rapi.
·         Memakai kain kampuh ngumbar kunca khusus untuk pria.
·         Memasang ungkup dan timang.
·         Memakai buntel.
·         Memasang kuluk menthok, keris, dan gambyok keris serta sumping melati.
·         Memasang perhiasan berupa kalung ulur emas dengan singgatannya.
·         Memakai selup bila di luar keraton.


BAB IV
PENUTUP


A.  KESIMPULAN
      Bahwa upacara tradisional yang berhubungan dengan perkawinan sangat nampak adanya perbedaan dari masing-masing daerah. Di kalangan masyarakat dikenal istilah “Kutha Mawa Tata Desa Mawa Cara” ini menunjukkan bahwa tradisi maupun kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat mempunyai ciri-ciri dan mempunyai identitas yang satu sama lain mempunyai perbedaan.
Perbedaan identitas khususnya pada tata upacara dan tat busana pengantin tradisional ini tidak terlepas dari unsur-unsur budaya yang mempengaruhinya, melalui maupun hubungan yang dilakukan antara masyarakat sebagai pendukung kebudayaan dengan pengaruh luar yang kemudian dapat mengintegrasikan ke dalam san bercampur membentuk kebudayaan yang khas dan tumbuh berkembang di suatu daerah atau etnis masyarakat akan terwujud bentuk kebudayaan baru dengan corak berbeda-beda.
Bahwa pengantin gaya Surakarta hingga dewasa ini mampu bertahan di tengah-tengah masyarakat Jawa dan penduduknya pun masih kuat mempertahankannya. Sementara itu pengantin tradisional lain lama-kelamaan mengalami kemunduran atau pendukungnya semakin berkurang dan dikhawatirkan akan punah dan hampir hilang.
Bahwa eksistensi dari suatu aktivitas kebudayaan akan berkembang atau tidak semua tergantung sampai seberapa jauh daya dukung masyarakat bersangkutan sebagai pelakunya. Maka kenyataan menunjukkan bahwa makin berkurangnya minat upacara pengantin tradisional niscaya keanekaragaman budaya daerha sangat memungkinkan hilang / punah.

A.  SARAN - SARAN
      Mengingat kebudayaan nasional merupakan puncak-puncak dari kebudayaan daerah, maka penulis harapkan para pembaca terutama generasi muda agar dapat memperhatikan dan melestarikan kebudayaan daerah yang beraneka ragam, sehingga bangsa kita tetap kaya akan kebudayaan. Dan kita juga harus dapat mencegah kebudayaan dari barat yang dapat merusak kebudayaan kita ini, sehingga nantinya kebudayaan kita mengalami kemunduran atau hilang dan punah sama sekali karena digeser oleh kebudayaan asing.

DAFTAR PUSTAKA


1.      Buku Pengantin Jawa Tengah, Drs. Mino, dkk
2.      Brosur Museum Negeri Ranggawarsita Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar